Sejarah Desa

Riwayat asal mula Desa Kunduran dimulai dengan alkisah puyang Bungamas sering didatangi musuh secara terus menerusdengan tujuan merebut tanah baca; kek4asaan Puyang Sidik Kecil, Walaupun berhasil dikalahkan tapi yang datang akan lebih banyak lagi kalau yang menyerang pada hari ini 10 orang  dan kesemuanya berhasil dibunuh tapi keesokan paginya akan datang lagi 20 orang begitula terjadi terus menerus. Alhasil Puyang Sidik Kecil mencari sekutu; baca bantuan, dan terdengarlah kabar bahwa ada seorang sakti; baca berilmu sesuai jamannya, di Maras Bantan dusun Pangi disebut dalam sejarah turun temurun bernama Puyang Rio Lumpur. Dan oleh Puyang Sidik Kecil berkirim kabar kepada Puyang Rio Lampur untik datang ke Bungamas. Singkat cerita kedatangan Puyang Rio Lampur di jemput oleh Puyang Sidik Kecil di Palak tanah Bungamas. Setelah sampai terjadi dialog  antara Puyang Sidik Kecil dengan Puyang Rio Lampur mengenai kenapa berkirim pesan (undangan) dan dijelaskannya tujuan tersebut oleh Puyang Sidik Kecil.  Pertempuran Puyang Rio Lumpur terjadi di Muara Buluhan dan berangkat sendiri tanpa dibantu lagi oleh Puyang Sidik Kecil . Alhasil pertempuran dimenangkan oleh Puyang Rio Lampur. Musuh yang mati dipotong kupingnya. Sehingga terkumpul kuping telinga seipuak besar (kurang lebih setengah karung 20 kg) sebagai oleh-oleh untuk Puyang Sidik Kecil. Sesudah pertempuan itu musuh sudah tidak pernag datang lagi.

            Selanjutnya berdasarkan  Puyang Rio Lampur meminta tanah kepada Puyang Sidik Kecil unuk tempat untuk membuat desa sebagai hadiah dan oleh Puyang Sidik Kecil diberilah tanah secugung keciak diatas lubuk serang kaya Puyang Riyo Lampur merasa kecewa dan di sumpahi oleh beliau apapun yang ditanam tidak akan tumbuh dan lubuk Serang Kayo tidak akan tidak akan di huni ikan. Dengan membawa kekesalan hati Puyang Riyo berangkat ke hilir sungai dan bertemu dengan Muara sungai dan diberi nama Muara Simpang Besar.  Selanjutnya Puyang Riyo Lampur kehulu sungai dan bertemu dengan muara sungai lagi dan diberi nama Muara Muara Simpang Kecil dalam perjalanan tersebut beliau bertemu dengan Puyang Nenek Buto di Kota Agung beliau mengalah untuk tidak mengambil tanah Kota Agung dan kembali kehulu sungai dan sampai ke Muara Air Simpang Gaga selanjutnya beliau kehilir dan sampai ke Muara Air Dingin dan perahu diikat dengan tujuan membuat Dusun, karena beliau tertarik dengan tanah datar dan dikelilingi oleh air dan ada tanjungan (tanah pinggiran sungai). Selanjutnya beliau kembali ke perahu di Muara Air Dingin disinilah awal nama Desa Kunduran karena perahu tersebut mundur ke hulu sungai.

            Pada masa tahun perjuangan kemerdekaan, masyarakat Desa Kunduran ikut terkena imbas dijajah dijadikan kuli salah satu tempat diperkerjakan yaitu di Pulau Enggano dan sampai sekarang tidak kembali. Setelah merdeka tahun 1945 kemarau panjang terjadi semua tanaman gagal panen yang tersisa hanya ubi-ubian, sesudah berakhir musim kemarau masyarakat kembali hidup seperti biasa kurang lebih 16 tahun lamanya. Setelah itu terjadi pemberontakan PRRI kurang lebih 3 tahun kejadian  ini membuat masyarakat Kunduran tidak aman dan tidak sempat bercocok tanam hingga menyebabkan kesengsaraan berkepanjangan berakhir pemberontakan PRRI 1966 kemarau panjang kembali terjadi kurang lebih 1 tahun kekeringan ini melanda. Hampir seluruh daerah termasuk desa Kunduran kesengsaraan hanya makan ubi-ubian hutan. Setelah berakhirnya kemarau tersebut keadaan kembali normal. Selanjutnya pada tahun 1970-an masyarakat desa Kunduran banyak yang mencari kehidupan dengan berkebun kopi kedaerah kepahyang hingga akhirnya ada yang betah tinggal disana dan mentap. Pada tahun 1997 kembali terjadi kemarau 8 bulan masyarakat Kunduran banyak yang beralih cocok tanam dengan tanaman palawija tapi ikut gagal bersama desa lainnya karena hama belalang yang luar biasa banyaknya pada saat itu suara belalang saking banyak nya seperti suara dengungan helikopter. Selanjutnya hingga saat ini masyarakat Kunduran sudah mulai mengikuti pertanian modern seperti bertanam sawit dan karet dan pada umumnya sudah betah berada di desa.

            Demikianlah sejarah Desa Kunduran diceritakan kembali oleh Sa’ip sebagai generasi penerus di desa Kunduran.

Berita Terbaru